Mengurai Sampah dengan Cacing

Publication:
Intisari
Published Date:
1999 Nov 1

Bagi kota besar macam Jakarta sampah merupakan salah satu masalah besar. Dalam seharinya, kota Jakarta saja menghasilkan puluhan ribu m3 sampah. Sebagian, 25.000 m3, berhasil diangkut ke TPA Bantargebang, sebagian lagi tercecer di berbagai tempat, dari selokan hingga sungai. Di TPA tumpukan sampah itu menimbulkan dampak pencemaran udara dan air. Sementara yang tercecer bisa merusak pemandangan dan bikin selokan mampet yang akhirnya menyebabkan banjir kala hujan datang.

Untuk mengatasinya memang perlu keterlibatan dan kepedulian semua pihak. Dinas kebersihan melakukan penanganan yang semestinya terhadap sampah yang telah dibuang di TPA. Sementara warga masyarakat bisa membantu dengan mengurangi sampah yang mesti dibuang ke TPA atau dengan memisahkan sampah kering macam kertas, kaca, atau plastik dari yang basah seperti limbah dapur. Dengan begitu sampah kering bisa segera dibersihkan oleh pemulung dan sampah basah bisa dibuang atau dimanfaatkan.

Kalau mau sedikit repot, limbah dapur berupa sisa sayuran mentah bisa dimanfaatkan dengan minta bantuan cacing untuk mengurai sampah dapur tadi. Hi … jijik! Jangan khawatir. Sekarang ada teknologi penguraian sampah dengan bantuan cacing tanpa harus bersentuhan dengan cacing, yakni dengan metoda vertikal pindah dari bawah ke atas. Teknologi sederhana ini sudah cukup populer di Australia. Bahkan, menurut Maskanah, dari Yayasan Kirai Indonesia, di negeri kanguru itu perlengkapan pengurai sampah sudah umum dijual di plaza-plaza.

Kalau tertarik cara penangan limbah dapur ini, kita cukup menyediakan rak tingkat beratap di salah satu sudut rumah kita. Juga empat wadah yang bisa masuk ke dalam rak. Yang penting tingginya 15 – 20 cm. Tiga di antaranya dengan alas berlubang yang memungkinkan cacing masuk dari bawah dan yang satu dengan alas tertutup. Bahannya, bisa dari plastik, bisa pula bahan lain yang murah.

Cacing yang bisa digunakan untuk mengurai sampah adalah cacing pembentuk humus, di antaranya red worm (Lumbricus rubellus), tiger worm (Eisenia foetida), E. andrei, Pheretima asiatica, Perionyx exavatus, dan Eudrilus eugeniae. Namun yang paling cocok adalah cacing red worm. Menurut Maskanah, jumlah cacing yang diperlukan tidak terlalu banyak, ¼ kg cacing sudah cukup untuk 10 KK.

Untuk memulainya perlu dipersiapkan media hidup yang berfungsi pula sebagai sumber pakannya. Untuk 1 kg cacing diperlukan media hidup 20 – 40 l. Media hidup ini terbuat dari cacahan halus sampah bahan sayuran atau makanan yang bebas minyak atau lemak. Untuk tahap awal, bahan tsb. diperam kira-kira 15 hari sebelum cacing ditanamkan. “Sebaiknya direndam terlebih dahulu, agar residu pestisida tercuci dan biang penyakit seperti telur lalat mati,” jelas Maskanah.

Media hidup dan cacing diletakkan pada wadah berlubang pertama (wadah B). Dalam rak, wadah ini berada di urutan kedua dari bawah, yakni di atas wadah yang alasnya tertutup, untuk wadah cairan (wadah A). Di atas wadah B ada wadah C (berisi limbah dapur agak lama) dan paling atas wadah D (berisi limbah dapur paling baru). Semuanya mesti rapat.

Ketika bahan makanan di wadah B sudah habis atau sudah lapuk, kira-kira setelah 1 bulan, cacing akan pindah ke wadah C. Wadah B bisa dikeluarkan dan bekas media hidupnya bisa dijadikan media tanam tanaman hias. Wadah C dan D diturunkan sementara wadah B yang sudah kosong diletakkan paling atas. Setiap ada limbah dapur bisa ditempatkan di wadah teratas ini setelah dicincang halus terlebih dahulu. Begitu seterusnya. Dengan cara ini kita bisa sedikit membantu menanggulangi masalah sampah organik dan mendapatkan pupuk organik “gratis”. (Gde).

Country:
Indonesia
Language:
Indonesia

Back to top