Pondok Kelapa Menuju Zero Waste
Dua orang lelaki tampak tangkas menyuruk sampah ke dalam sebuah ban berjalan. Disana, aneka jenis limbah rumah tangga itu campur aduk. Dari pensil patah, sayuran busuk, sampai kaleng rombeng. Lima orang lainnya dengan cekatan menyambut luapan sampah itu. Dengan tangan telanjang, mereka memisahkan sampah organik dan non organik ke dalam wadah yang berbeda.
"Ini pabrik sampah Pondok Kelapa," ujar Rustam. Anak muda usia 25 tahun, lalu menjelaskan keberadaan instalasi pengolahan sampah di Jalan Haji Manan Nomor 5, Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur itu. Dalam bangunan mirip bengkel cuci mobil itu, sekitar 15 meter kubik sampah setiap harinya diolah. Limbah itu adalah buangan dari tiga RW di Pondok Kelapa: RW 01, 02 dan 03.
Memang, sejak rencana penutupan TPA Bantar Gebang pada 2003, sampah menjadi prolem terbesar Jakarta. Badan Penelitian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pun sampai turun tangan. Jalan keluarnya, metode zero waste harus segera diterapkan. Dengan metode itu, sampah akan diolah tuntas: tanpa sisa. Rencana itu pun mulai digelindingkan awal tahun lalu. Dua kelurahan di Jakarta dipilih untuk pilot project: Rawasari di Jakarta Pusat dan Pondok Kelapa di Jakarta Timur.
Menurut Rustam, sejak Juni lalu pabrik itu mulai dijalankan. Awalnya, instalasi di areal 200 meter persegi itu, ditangani oleh Dinas Kebersihan. BPPT memberikan bantuan teknis. Antara lain berupa mesin pengolah, mesin cacah kertas dan plastik, sampai mesin bubur kertas. "Hampir 60 persen sampah di kelurahan ini bisa kita atasi dengan cara zero waste," ujarnya.
Sampah organik, misalnya. Limbah itu diolah menjadi kompos. Lewat proses satu bulan fermentasi, sampah menjelma jadi semi-kompos. Sisanya, diolah dengan memakai cacing sebagai katalisator. Kompos "hasil kerja" kawanan cacing itu lebih lembut. Orang menyebutnya "kascing" alias kompos cacing. "Petani penggarap di Duren Sawit adalah konsumen kompos produksi kami," tambah Rustam.
Kendati begitu, tak semua sampah berhasil diolah. Terutama jenis non organik. Sampah semisal plastik, kaleng dan kertas itu akhirnya ditumpuk dalam paket-paket kecil. Menurut Rustam, paket itu adalah pesanan dari sejumlah pabrik daur ulang di daerah Bekasi. Yang bikin pusing adalah sampah yang tak bisa diolah di pabrik. Sampah jenis itu harusnya dibakar. Abunya, akan diolah menjadi barang yang berguna, semisal batako. "Sayangnya kita tak punya incinerator (alat pembakar sampah)," ujarnya.
Andri Yansyah, Sekretaris Kelurahan Pondok Kelapa, telah lama mengusulkan ke Pemda DKI agar mesin incinerator segera dikirimkan ke tempatnya. Soalnya, pengolahan sampah ini sangat menjanjikan sebagai solusi soal sampah di ibukota. Pengolahan tuntas, tentu saja membutuhkan mesin pembakar. Teknologi itu juga dinilai tidak bakal mengganggu lingkungan. "Kalau tidak, sulit bagi kita mencapai target zero waste," ujarnya.
kascing