Joko Prayitno, korban PHK yang hidup dari bekas cacing
Tahun 1997 Joko Prayitno terpaksa harus berhenti bekerja dari pabrik pupuk posfat. Seperti kebanyakan korban PHK, ia bingung bagaimana melanjutkan hidupnya. Tetapi kalau tidak di-PHK mungkin Prayitno tidak seberuntung sekarang ini.
Ia merasa beruntung karena berkesempatan mengikuti Program Penanggulangan Pengangguran Pekerja Terampil (P3T) yang diselenggarakan oleh Departemen Tenaga Kerja. Ia mengikuti pelatihan beternak cacing tanah (Lumbricus sp.) di Institut Teknologi Bandung selama tiga bulan. Korban PHK ini tidak hanya beruntung sekali saja. Ia bersyukur selama mengikuti program pelatihan ia mendapat uang saku Rp 300 ribu. Terlebih lagi, setelah selesai pelatihan ia mendapat pinjaman modal Rp 1,5 juta untuk membuat pupuk bekas cacing (kascing). Dan, Depnaker selama dua tahun terus memantau usahanya.
“Bagi saya kerja yang penting senang dahulu. Saya senang membuat kascing,” demikian pengakuan Prayitno kepada beritabumi.or.id.
Prayitno memulai ternak cacing di Banjar Kolot, Ciamis. Ia mengawali usaha barunya dengan bibit cacing yang didatangkan dari Bandung tahun 1997. Awalnya ia harus mengembangkan dulu cacing-cacing itu sampai cukup banyak. Baru kemudian tahun 1998 ia mulai membuat kascing dari kotoran sapi dan kerbau.
Kemudian ia bekerja sama dengan Koperasi Bina Insani. Waktu itu ia mampu memasarkan produk kascing ke PT Freeport Indonesia (Papua) untuk penghijauan di sana dan ke Pangkal Pinang untuk pupuk tanaman di ladang. Selain itu, kascing juga diekspor ke Jepang.
Pada tahun 2001, Prayitno memutuskan bergabung dengan PT Cemani Cipta Cemerlang, sebuah perusahaan dengan bermacam kegiatan, antara lain usaha konsultan, pengembang perumahan, dan perdagangan lainnnya. Ia bekerja menduduki posisi Kepala Produksi Kascing. Ia memutuskan menjadi karyawan karena ia pikir jika dengan modal besar maka kapasitas produksi bisa meningkat dan otomatis penghasilannya akan lebih besar pula. Ia tidak berpikir sekarang hidupnya tergantung pada orang lain.
PT Cemani Cipta Cemerlang, selain memiliki unit produksi kascing yang dikembangkan Prayitno, juga mempunyai pemasok kascing lain. Pemasok itu adalah Warno dan Wowo dari Lembang, Bandung, Jawa Barat. Koperasi Bina Insani, Banjar Kolot, Ciamis, Jawa Barat juga memasok kascing ke perusahaan itu. Rupanya pemasok-pemasok itu juga mengekspor sendiri kascingnya ke Jepang.
Selain ekspor ke Jepang, PT Cemani mengirim kascing ke perkebunan di Jambi, ke Unila Lampung untuk penelitian, ke BPPT Serpong untuk penelitian obat-obatan, masing-masing dua kali kirim sebanyak satu ton, dan ke Cibubur untuk pertanian sebanyak 500 kg tiga kali pengiriman.
Untuk pasar lokal kascing dikemas dalam kantong plastik tidak berlabel. Sedangkan untuk ekpor dikemas dalam kantong plastik, berukuran 20 kg, berlabel tulisan Jepang. Perusahaan itu mengekspor kascing ke Jepang rata-rata 800 kg per bulan.
Sayangnya, perusahaan ini tidak tahu siapa mitranya di Jepang karena mereka hanya berhubungan dengan satu orang Jepang yang tinggal di Jakarta. Mereka mendapat kantong dan order pemesanan tidak langsung dari Jepang tetapi dari orang Jepang itu yang menjadi pedagang perantara, ungkap Ari Raharjo Manajer Pengembangan PT Cemani Cipta Cemerlang. Melalui orang Jepang itu pula saat ini produk kascing PT Cemani diekspor ke Korea dan Malaysia.
Proses pembuatan kascing tidak sulit. Berikut tahapan pembuatan kascing di PT Cemani Cipta Cemerlang yang dilakukan Prayitno :
- Kotoran sapi dan kerbau sebanyak 600-700 kg, yang menjadi bahan dasar atau media hidup yang juga makanan cacing, diangin-anginkan selama dua minggu. Prayitno mendapatkan kotoran ternak dari penduduk yang memelihara sapi dan kerbau tanpa bahan kimia di Desa Gunung Putri, Bogor.
- Cacing tanah, sebanyak 800 kg, disebarkan ke media kotoran ternak yang sudah dianginkan selama dua minggu itu. Menurut Prayitno semakin banyak cacingnya semakin cepat proses pembuatan kascing.
- Selama dua minggu, cacing-cacing itu akan memproses kotoran ternak yang warnanya kehijauan menjadi kehitaman. Ketika cacing-cacing mulai meninggalkan media itu, berarti sudah tidak ada lagi makanan, alias sudah terbentuk kascingnya.
- Kascing yang sebenarnya kotoran cacing, bentuknya seperti pasir berupa butiran, berserat, dan berwarna kehitaman.
- Kascing yang masih lembab ini kemudian diangin-anginkan sampai cukup kering agar mudah diayak.
- Hasil ayakan kascing, kemudian, dipanaskan (dalam tungku pembakar) dengan suhu lebih dari 100 derajat celsius agar kascing menjadi steril. Pemanasan juga akan meningkatkan kekeringan kascing sehingga tidak akan ditumbuhi jamur.
- Kascing yang sudah dipanaskan bentuknya butiran seperti pasir berwarna kecoklatan.
- Kascing butiran kasar yang tidak lolos ayakan ditumbuh sampai halus untuk diayak kembali sebelum dibakar.
kascing