Memanfaatkan cacing tanah untuk hasilkan pupuk organik

Publication:
Berita Bumi
Published Date:
2004 May 11
Author:
Sri Nuryati

Salah satu mahluk hidup penghuni tanah adalah cacing. Cacing tanah tergolong dalam kelompok binatang avertebrata (tidak bertulang belakang) yang hidupnya di tanah yang gembur dan lembab. Ada lebih dari 1.800 jenis cacing tanah yang dikenal para ilmuwan.

Tetapi hanya sembilan spesies yang banyak dimanfaatkan oleh ahli pertanian, pembudi daya cacing tanah, dan para peminat lainnya, terutama untuk menghasilkan pupuk organik.

Kesembilan jenis tersebut adalah Lumbricus terrestris, Lumbricus rubellus, Eisenia foetida, Allolobophora caliginosa, Allolobophora chlorotica, Pheretima asiatica, Perionyx excavatus, Diplocordia verrucosa, dan Eudrilus eugeniae.

Dari sembilan spesies itu, hanya empat spesies yang dibudi dayakan yaitu L. rubellus, E. foetida, P. asiatica, E. eugeniae.

Cacing tanah dapat mencerna bahan organik seberat badannya bahkan lebih. Menurut Rahmat Rukmana dalam bukunya yang berjudul "Budi Daya Cacing Tanah," hewan ini mampu mencerna bahan organik seberat dua kali lipat berat badannya selama 24 jam.

Kemampuan hewan ini mendaur ulang limbah organik dicirikan dari sistem pencernaannya yang spesifik dan cara mencerna makanan. Sistem pencernaan hewan ini terdiri dari farink, kerongkongan, kelenjar kalsiferous, tembolok, lambung dan usus besar.

Bahan organik menjadi sumber makanan cacing tanah. Kotoran cacing tanah sisa mencerna bahan organik adalah pupuk penyubur tanah, yang lebih dikenal sebagai kascing atau bekas cacing.

Cacing yang sangat menyukai bahan organik, terutama yang berasal dari kotoran ternak dan sisa-sisa tumbuhan, adalah jenis Lumbricus rubellus yang diimpor dari Eropa.

"Cacing jenis ini ini sangat rakus dan berkembang lebih cepat, karenanya banyak disukai oleh peternak cacing," tutur Rohaji Trie, praktisi lingkungan yang telah lebih dari lima tahun menggeluti dunia percacingan.

Siklus hidup hewan ini dimulai dari kokon, cacing muda, cacing produktif dan cacing tua. Lama siklus hidup hewan ini dari telur hingga mati dapat mencapai 1-5 tahun.

Kemampuan cacing tanah mengurai bahan organik 3-5 kali lebih cepat dibandingkan proses pembusukan sampah secara alami.

“Tanpa cacing, sampah baru bisa membusuk dalam waktu kurang lebih dua bulan sedangkan jika menggunakan cacing, dalam dua minggu sudah jadi,” tutur Rohaji Trie yang sampai saat ini masih giat beternak cacing di halaman belakang rumahnya di kawasan Bandung, Jawa Barat.

“Lendir cacinglah yang turut membantu proses penguraian bahan organik,” ungkapnya lebih lanjut.

Mengapa kascing dapat menyuburkan tanaman?

Kascing merupakan partikel-partikel tanah berwarna kehitam-hitaman yang ukurannya lebih kecil dari partikel tanah biasa sehingga lebih cocok untuk pertumbuhan tanaman. Kascing mengandung zat organik yang akan menyesuaikan perubahan kimia secara alami.

"Dalam kondisi lembab, maka bakteri yang hidup di daerah lembablah yang berkembang, sebaliknya jika ditaruh di daerah panas, maka bakteri yang hidup di daerah panaslah yang akan berkembang," tutur Rohaji kepada beritabumi.or.id.

Selain itu kascing juga mengandung berbagai unsur hara penting seperti auxin, sitokinin, giberelin, dan zat perangsang tumbuh untuk tanaman. Dan jika dilihat dari kandungan unsurnya, kascing jauh lebih baik daripada pupuk anorganik karena hampir seluruh unsur hara yang dibutuhkan tanaman tersedia di dalamnya.

Komposisi komponen kimiawi pada kascing, menurut Rony Palungkun seperti ditulis dalam bukunya "Sukses Beternak Cacing Tanah" adalah sebagai berikut: nitrogen (N) 1,1-4,0%, fosfor (P) 0,3-3,5%, kalium (K) 0,2-2,1%, belerang (S) 0,24-0,63%, magnesium (Mg) 0,3-0,6% dan besi (Fe) 0,4-1,6%.

Country:
Indonesia
Language:
Indonesia

Back to top