Sebuah Wacana: Cacing Tanah sebagai Bahan Pakan Alternatif
RISET. Kebutuhan pakan ternak unggas yang bersumber dari protein hewani makin sulit terpenuhi, antara lain disebabkan kurangnya daya dukung lingkungan dan meningkatnya kebutuhan protein hewani. Sampai saat ini pakan yang mengandung protein hewani berasal dari tepung ikan dan tepung daging yang merupakan produksi impor, sehingga perlu adanya pakan lokal alternatif yang berpotensi tinggi baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.
Selain kandungan zat makanan, kualitas zat gizi dalam bahan pakan tersebut juga harus dapat dimanfaatkan oleh tubuh ternak secara optimal untuk pertumbuhan dan produksi. Cacing tanah merupakan salah satu bahan pakan alternatif yang memiliki potensi dan bergizi tinggi. Zat makanan yang terkandung dalam cacing tanah meliputi protein, lemak, mineral dan air. Kandungan protein kasar cacing tanah relatif tinggi, namun dalam penggunaannya perlu dipertimbangkan beberapa hal, diantaranya jumlah protein tercerna dan bentuk pemberiannya. Penggunaan cacing tanah dalam pakan ternak dapat dilakukan dalam bentuk segar maupun dalam bentuk tepung. Caing tanah dalam bentuk segar mengandung protein yang lebih tinggi dan lebih efisien diberikan pada ternak dibanding dengan yang diolah. Heti Resnawati salah seorang peneliti dari Balai Penelitian Ternak, Bogor beberapa saat lalu telah melakukan riset untuk mengetahui energi metabolis, retensi nitrogen dan bentuk pemberian cacing tanah pada ternak unggas.
Riset ini menggunakan 25 ekor ayam ras jantan umur 18 bulan yang ditempatkan dalam 25 kandang baterai secara individu dan dibagi dalam 4 perlakuan. Sedang cacing tanah yang digunakan dalam perlakuan adalah cacing tanah segar yang sudah tidak berproduksi dan telah dihaluskan (R3), bekas cacing (kascing) yang berasal dari bekas media (100% feses sapi) yang telah diangin-angikan selama 24 jam (R4), dan tepung cacing. Tepung cacing diperoleh dari pengeringan cacing menggunakan sinar matahari (R1), maupun menggunakan oven dengan suhu 60°C sampai mencapai kadar air 14% (R2) yang kemudian dihaluskan.
Hasil riset menunjukkan, cacing tanah segar (R3) memiliki kandungan protein lebih tinggi yakni 61,96% dibanding cacing tanah yang dikeringkan maupun kascing. Sedangkan kandungan energi bruto tertinggi terdapat pada cacing tanah yang dikeringkan dengan sinar matahari (R1) yakni 4893 Kkal/kg, dibanding 4483 Kkal/kg untuk R2, 4489 Kkal/kg untuk R3 dan R4 sebesar 4238 Kkal/kg.
Tabel 1. Kandungan protein kasar dan energi bruto cacing tanah dan kascing
| Pakan | Protein Kasar (%) | Energi Bruto (Kkal/kg) |
| R1 | 51.50 | 4893 |
| R2 | 48.48 | 4483 |
| R3 | 61.96 | 4489 |
| R4 | 19.37 | 4238 |
Keterangan :
R1 : Tepung cacing tanah dengan pengeringan sinar matahari
R2 : Tepung cacing tanah dengan pengeringan oven
R3 : Cacing tanah segar
R4 : Kascing (bekas cacing)
Dari hasil tersebut terlihat perbedaan cara penanganan dan pengolahan bahan pakan ternyata mempengaruhi kandungan protein cacing tanah. Oleh karena itu pengaruh tersebut perlu dijadikan pertimbangan tentang cara pengolahan yang digunakan dalam penyusunan pakan ternak yang optimal. Pengolahan bahan pakan akan menguntungkan selama proses tersebut mempunyai keunggulan dan nilai tambah, seperti dapat menambah palatabilitas ransum, membunuh mikroorganisme patogen dan mengurangi bau. Pengeringan dengan cara pengeringan alami menggunakan sinar matahari memang relatif murah, tapi cara ini dapat menimbulkan efek negatif dengan banyaknya nitrogen yang hilang. Sedangkan menggunakan oven, kehilangan nitogennya relatif lebih sedikit dibandingkan pengeringan lainnya. Berdasarkan rataan retensi nitrogen dapat diketahui bahwa cacing tanah yang diberikan dalam bentuk segar (R3) mempunyai retensi nitrogen lebih tinggi dibanding bila cacing dikeringkan baik menggunakan oven (R2) maupun sinar matahari (R1) serta kascing (R4). Perbedaan ini disebabkan karena konsumsi nitrogen lebih tinggi pada R3 sehingga kelompok perlakuan R3 ini juga lebih banyak menahan nitrogen dalam tubuhnya dan lebih sedikit membuangnya dalam ekskreta dibandingkan perlakuan lainnya. Hal ini berarti ayam dapat mencerna dan mengabsorbsi protein, cacing tanah segar lebih efisien.
Tabel 2. Rataan retensi nitrogen pada berbagai pengolahan cacing tanah dan kascing
| Retensi Nitrogen (g) | ||||
| Ulangan | R1 | R2 | R3 | R4 |
| 1 | 0,84 | 0,87 | 0,90 | 0,51 |
| 2 | 0,92 | 0,85 | 0,92 | 0,76 |
| 3 | 0,86 | 0,85 | 0,82 | 0,73 |
| 4 | 0,85 | 0,87 | 0,84 | 0,72 |
| 5 | 0,83 | 0,85 | 0,81 | 0,55 |
| Jumlah | 4,30 | 4,29 | 4,39 | 3,27 |
| Rataan | 0,86a | 0,85a | 0,88a | 0,65b |
Keterangan: Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0,01)
Sedang dari hasil perhitungan energi metabolis pada berbagai cara pengolahan, ternyata pengeringan dengan sinar matahari (R1) mengandung energi metabolis tertinggi yaitu 3613,76 Kkal/kg. Kemudian diikuti berturut-turut pengeringan dengan oven (R2) sebesar 3528,90 Kkal/kg, cacing tanah segar (R3) sebesar 2924,51 Kkal/kg dan kascing (R4) sebesar 2518,07 Kkal/kg. Terlihat perbedaan cara pengolahan mempengaruhi energi metabolis. Hal ini disebabkan karena bentuk fisik pakan yang berubah akibat proses pengolahan. Selain itu enzim yang ada dalam sistem pencernaan ayam menghendaki bentuk fisik yang mudah dipecah dari komposisi zat kimia yang kompleks menjadi komposisi yang lebih sederhana, sehingga mudah diabsorbsi dan menghasilkan energi yang tinggi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan energi metabolis dalam ransum adalah kemampuan ternak memenfaatkan energi bruto dari protein yang tersedia. Perubahan tingkat protein ransum yang diberikan pada unggas menyebabkan perbedaan jumlah protein yang diretensi, sehingga menghasilkan nilai metabolis. Keseimbangan zat-zat makanan dalam bahan pakan juga mempengaruhi energi yang hilang dari tubuh hewan. Kehilangan energi lebih sedikit bila keseimbangan zat-zat makanan proporsional. Sebaliknya, kehilangan energi lebih besar pada bahan pakan dengan zat-zat makanan yang tidak seimbang terutama bila kandungan protein pakan lebih rendah. Riset ini menunjukkan, baik cacing tanah segar maupun dalam bentuk tepung mengandung energi metabolis yang baik sebagai sumber energi pakan. Selain itu kascing yang merupakan bekas media budidaya cacing tanah pun mempunyai potensi untuk digunakan sebagai bahan pakan alternatif.
kascing